Wednesday, April 21, 2021

Pengembangan Vaksin Sel Denritik yang Diteliti di RSPAD Bukan Tujuan Komersial

 

Konferensi Pers Kapuspen TNI Mayjen Achmad Riad terkait Vaksin Nusantara di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (19/4/2021). Sumber foto: KOMPAS.com/RAHEL NARDA


Ketiga institusi yaitu Kementerian Kesehatan, TNI dan BPOM memastikan bahwa pengembangan vaksin sel dendritik atau vaksin nusantara yang saat ini sedang dilakukan di RSPAD Gatot Subroto hanya sebatas penelitian saja, bukan untuk tujuan komersial.


Hal tersebut terwujud dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dilakukan oleh Kepala BPOM, Menkes dan KSAD serta disaksikan oleh Menko PMK.


Mengutip keterangan tertulis dari Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, penelitian yang sedang berlangsung di RSPAD ini bukan merupakan kelanjutan dari uji klinis tahap I. Pasalnya uji klinis tahap I dilakukan di RSUD dr. Kariadi, Semarang masih perlu diperbaiki sesuai rekomendasi BPOM.


“Penelitian yang akan dilakukan di RSPAD selain untuk mempedomani kaidah penelitian, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, juga bersifat autologus yang hanya dipergunakan ke diri pasien sendiri,” demikian keterangan Dinas Penerangan TNI AD seperti dikutip dari akun Instagram miliknya, Senin (19/4 / 2021).


TNI mendukung pengembangan vaksin sel dendritik sebagai bentuk kerjasama


Kepala Pusat Penerangan TNI (Kapuspen) Mayjen Achmad Riad menjelaskan, pihaknya mendukung pengembangan vaksin sel dendritik atau yang lebih dikenal dengan vaksin nusantara di fasilitas RSPAD Gatot Soebroto. Meski pengembangan vaksin sel dendritik bukan program TNI, namun merupakan bentuk kerja sama.


“Penggunaan fasilitas kesehatan, dan tenaga ahli kesehatan atau peneliti akan diatur dengan mekanisme kerja sama sebagai dasar hukum atau legal standing, dan tanpa mengganggu tugas-tugas kedinasan atau tugas pokok kesatuan,” kata Riad dalam keterangan pers seperti disiarkan di saluran YouTube Kompas TV. , Senin (19/4/2021).


TNI mendukung vaksin sel dendritik selama mendapat izin dari BPOM


Meski TNI tidak mengakui vaksin sel dendritik sebagai programnya, Riad mengatakan TNI akan mendukung pengembangan vaksin ini selama sudah mendapat izin dari BPOM.


“Dengan catatan telah memenuhi kriteria dan persyaratan yang telah ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga harus ada tiga kriteria penting yang harus dipenuhi, yaitu keamanan, efikasi, dan kelayakannya,” kata Riad.


Polemik vaksin nusantara


Pembuatan vaksin nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto ini terus menuai polemik karena BPOM menemukan banyak kejanggalan pada uji klinis pertama vaksin tersebut.


Oleh karena itu, Kepala BPOM Penny K Lukito menegaskan tidak akan memberikan izin untuk melanjutkan uji klinis vaksin nusantara tahap kedua.


Penny menegaskan, semua pengujian vaksin, termasuk vaksin nusantara, harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, baik secara internasional maupun nasional. Untuk vaksin nusantara, pengujian praklinis juga harus sesuai.


“Praklinik ini penting untuk perlindungan dari subyek manusia. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan ketika uji coba,” kata Penny dalam jumpa pers di Kantor Bio Farma, Jumat 16 April 2021.


Penny menjelaskan, praklinik dalam pengujian vaksin harus mengedepankan keamanan. Kemudian dari skala laboratorium pastikan juga vaksin tersebut sudah teruji dengan baik.


“Ada koreksi dalam uji klinik, makanya ada praklinik. Kalau tidak diikuti prosesnya ini tidak akan mendapatkan vaksin yang bermutu dan berkualitas,” ujarnya.


Menurut Penny, jika ingin produksi vaksin segera selesai tapi tidak menunjukkan sisi keamanan uji coba, maka itu salah. Pasalnya, penelitian memang memakan waktu lama dan berjenjang.

Situs Domino Online | Agen Poker Online | Bolatangkas Online | Kaya Kiu

No comments:

Post a Comment