Kaya Kiu - Perdana Menteri Swedia Stefan Löfven akan mundur dari jabatannya setelah kalah dalam mosi tidak percaya. Pengunduran diri perdana menteri Swedia itu terkait dengan kebijakan sewa properti yang tidak disetujui oleh oposisi terkuat.
Pengunduran diri Löfven dari jabatannya akan menjerumuskan Swedia ke dalam ketidakpastian politik lagi. Karena dua tahun lalu, Swedia juga mengalami hal yang sama usai kebuntuan di parlemen.
PM Swedia pertama yang mengundurkan diri melalui mosi tidak percaya
Pada Senin (21/06/2021) Perdana Menteri Swedia, Stefan Löfven akan meninggalkan jabatannya setelah kalah dalam mosi tidak percaya. Pengunduran diri Löfven menjadikannya pertama kalinya perdana menteri Swedia digulingkan oleh mosi tidak percaya.
Pemungutan suara di parlemen menunjukkan bahwa 181 dari 349 anggota parlemen setuju agar Löfven mundur dari jabatannya. Bahkan suara yang disetujui berada di atas suara yang disyaratkan, karena hanya dibutuhkan 175 suara untuk menggulingkannya, lapor The Guardian.
Mundurnya Partai Kiri dalam koalisi pemerintahan
https://twitter.com/dagensnyheter/status/1406926584674721792
Penyebab utama jatuhnya Löfven adalah rapuhnya pemerintah Swedia yang merupakan minoritas dan hanya didukung oleh dua partai kecil di tengah sejak pemilu 2018. Sementara itu, partai sayap kiri yang sebelumnya mendukungnya berbalik dan bergabung melawannya menyusul partai oposisi sayap kanan Sosial Demokrat.
Partai Kiri mundur untuk mendukung pemerintahan PM Löfven karena kebijakan reformasi sewa properti yang kontroversial. Partai sayap kiri menuduh ini sebagai upaya untuk meliberalisasi sistem sewa di Swedia yang disebutnya terlalu kaku dan akan menghapus kontrol sewa atas properti baru pada tahun 2022, dikutip dari RT.
Dilaporkan dari Al Jazeera, ketua Partai Kiri Nooshi Dadgostar menyalahkan Löfven atas krisis saat ini dan berkata, "Ini tidak berarti Partai Kiri menyerahkan pemerintahan kepada Sosial Demokrat, ini adalah pemerintahan Sosial Demokrat yang menyerahkan kepada Partai Kiri dan orang Swedia."
Stefan Löfven akan memutuskan minggu depan
https://twitter.com/eucopresident/status/1399717892346847237
Setelah mosi tidak percaya, PM Stefan Löfven akan memutuskan dalam waktu seminggu apakah dia akan mundur atau mempercayakan ketua parlemen untuk membentuk pemerintahan sementara atau mengadakan pemilihan ulang. Sampai pekan lalu, Löfven juga belum menentukan apakah akan mundur, terutama setelah Partai Kiri mundur dari koalisi pemerintahan.
Di sisi lain, beberapa pihak menolak kebijakan kontroversial tersebut karena disebut-sebut akan menaikkan harga properti di tengah pandemi. Pasalnya, Swedia selama ini memberlakukan aturan ketat terkait penyewaan properti agar biaya sewa tetap terjangkau meski di kota-kota besar.
Bahkan sekarang banyak pembangun properti yang membangun tempat tinggal baru hanya untuk disewakan. Akibatnya, masyarakat harus menunggu lama hanya untuk menyewa rumah, sedangkan membeli properti sangat sulit karena harga rumah yang tinggi, dikutip dari Al Jazeera.

No comments:
Post a Comment