Saturday, September 4, 2021

Menlu Qatar Desak Negara-Negara untuk Mendukung Taliban di Afghanistan

 

Kaya Kiu - Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani bertemu dengan Mullah Abdul Ghani Baradar, kepala biro politik Taliban, di Doha, Qatar, Selasa (17/8/2021). - Antara/Reuters


Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, mendesak negara-negara untuk bekerja sama dengan Taliban untuk mengatasi krisis keamanan dan sosial ekonomi di Afghanistan. Menurutnya, mengisolasi Taliban hanya menyebabkan ketidakstabilan lebih lanjut.


Qatar yang telah menjadi tuan rumah dialog damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan sejak 2013, kini menjadi salah satu negara Teluk yang bermitra dengan Amerika Serikat (AS) yang mendukung rezim Taliban.


“Jika kita mulai memberikan syarat dan menghentikan keterlibatan, kita akan meninggalkan kekosongan, dan pertanyaannya adalah siapa yang akan mengisi kekosongan ini?” ujar Al Thani di Doha, Selasa (31/9/2021), seperti dilansir Al Jazeera.


Kemajuan di Afghanistan hanya dapat diwujudkan melalui dialog dan komunikasi


Sejak penaklukan ibu kota Kabul pada 15 Agustus 2021, tidak ada negara yang mengakui kekuasaan Taliban. Legitimasi negara-negara Barat akan bergantung pada komitmen Taliban terhadap janji-janjinya, termasuk pembentukan pemerintahan yang inklusif dan moderat, jaminan hak-hak perempuan, dan tidak menjadikan Afghanistan sebagai sarang teroris.


"Kami percaya bahwa tanpa keterlibatan kami tidak dapat mencapai kemajuan nyata di bidang keamanan atau di bidang sosial ekonomi," kata At-Thani. Ia menambahkan, isu politik berupa pengakuan atau penolakan adalah sesuatu yang bisa dikesampingkan demi kemanusiaan.


“Peran kami adalah selalu mendesak mereka (Taliban) untuk memiliki pemerintahan yang moderat, yang mencakup semua pihak dan tidak mengecualikan pihak mana pun. Selama pembicaraan kami dengan Taliban, tidak ada tanggapan positif atau negatif," kata Al-Thani, mengacu pada pembicaraan baru-baru ini antara Qatar dan penguasa baru Afghanistan.


Fokus Jerman pada isu kemanusiaan, bukan sikap politik


Pada kesempatan yang sama, hadir pula Menlu Jerman Heiko Mass yang sedang berkunjung ke negara-negara Teluk untuk membahas situasi terkini di Afghanistan. Jerman berkepentingan agar krisis di Afghanistan tidak menyebabkan lonjakan pengungsi, seperti lonjakan pengungsi dari Suriah pada 2015.


Hampir senada dengan Qatar, Mass melihat satu-satunya pilihan yang tersisa sekarang adalah berdialog dengan Taliban, meski dia tidak secara eksplisit mengakuinya.


"Saya pribadi percaya, tidak ada cara lain, kecuali berbicara dengan Taliban, karena kita tidak mampu untuk mengatasi ketidakstabilan di Afghanistan. Itu (ketidakstabilan) akan menguntungkan terorisme dan berdampak negatif pada negara tetangganya," jelasnya.


"Kami tidak mencari pengakuan formal, tapi kami ingin ingin menyelesaikan masalah yang ada, masalah orang-orang di Afghanistan, warga Jerman, dan staf lokal yang ingin meninggalkan negara itu," lanjutnya.


Perlu roadmap pembangunan pasca krisis


Kepergian pasukan Barat dari Afghanistan meninggalkan segudang masalah bagi Taliban. Tak hanya krisis ekonomi dan jutaan orang terancam kelaparan, Taliban juga harus menghadapi ancaman kelompok teror Islamic State-Khorasan (ISIS-K).


Kanselir Jerman Angela Merkel berharap keamanan Bandara Kabul akan tetap terjaga, karena negara-negara Barat mempertimbangkan bagaimana mengeluarkan lebih banyak orang dari Afghanistan, meskipun tenggat waktu untuk misi evakuasi.


Pembicaraan sedang berlangsung mengenai siapa yang sekarang akan mengoperasikan Bandara Kabul. Para pejabat AS melaporkan bandara itu dalam kondisi buruk, dengan banyak infrastruktur dasarnya rusak atau hancur.


Marwan Bishara, analis politik senior Al Jazeera, menekankan pentingnya peta jalan untuk mengurangi krisis di Afghanistan pascaperang.


“Peta jalan diperlukan untuk menstabilkan Afghanistan dan menghindari kekosongan strategis, politik atau militer, serta munculnya kelompok teroris ekstremis,” katanya.

No comments:

Post a Comment