Monday, September 6, 2021

Kantin di Universitas di Sekitar Kota Berlin Mulai Kurangi Menu Daging

 

Ilustrasi, sumber foto: peta.org.uk


Kaya Kiu - Kantin-kantin di universitas yang terletak di ibu kota Berlin, Jerman, bakal mulai mengurangi menu daging untuk semester depan. Hal ini dilakukan untuk mengekang perubahan iklim yang saat ini semakin mengkhawatirkan.


Meski daging telah menjadi unsur penting dalam makanan tradisional Jerman, tapi karena industri daging berkontribusi terhadap perubahan iklim, maka mereka berusaha untuk mengendalikannya.


Selain itu, kebijakan tersebut juga atas dorongan para mahasiswa yang meminta hidangan berbahan daging di kantin untuk dikurangi.


Presentasi menu hidangan kantin yang didominasi vegan dan vegetarian


Jerman yang bakal memasuki musim dingin, beberapa universitas yang ada di ibu kota Berlin akan menampilkan hidangan baru di beberapa kantin mereka. Menu daging atau makanan dengan bahan dasar daging bakal berkurang secara drastis.


Melansir The Guardian, setidaknya terdapat sebanyak 34 kantin dan kafe yang akan melayani populasi mahasiswa di Berlin, di empat universitas yang berbeda.


Kantin dan kafe empat universitas tersebut akan menawarkan menu yang sebagian besar didominasi dengan menu vegan dan vegetarian.


Vegan memiliki pilihan konsumsi menu yang ketat, yang tidak makan makanan yang berasal dari eksploitasi hewan. Sementara, vegetarian memang tidak makan daging, namun masih makan olahan makanan dari hewan seperti telur, susu atau madu.


Akan dihadirkan menu sebanyak 68 persen untuk vegan, 28 persen untuk vegetarian dan 2 persen menu berbasis ikan dengan satu pilihan daging ditawarkan empat hari dalam seminggu.


Freie Universitat Berlin, salah satu universitas di Berlin telah memiliki kantin yang hanya menjual makanan vegetarian sejak tahun 2010, bernama Veggie No 1. Sebuah kantin khusus vegan, bernama Veggie No 2, dibuka pada tahun 2019.


Perubahan pola konsumsi mahasiswa

https://twitter.com/BBCWorld/status/1432661118854565895?s=20


Kebijakan pengurangan konsumsi menu makanan berbahan dasar daging di kantin dan kafe di beberapa universitas di Berlin, juga disebabkan ada dorongan dari mahasiswa itu sendiri.


Terdapat perubahan pola konsumsi dari mahasiswa, yang menyadari perubahan iklim dan mereka akhirnya menjadi vegan atau vegetarian.


Melansir laman BBC, Daniela Kummle dari Studierendenwerk, sebuah kelompok pendukung mahasiswa, mengutip hasil survei tahun 2019, bahwa 14 persen mahasiswa di Berlin adalah vegan dan 33 persen adalah vegetarian.


Dia juga menyebutkan bahwa Studierendenwerk, yang mengelola 34 kantin di universitas dan perguruan tinggi Berlin, merevisi menunya selama pandemi "sehingga penawaran kami lebih ramah iklim."


Perubahan menu makanan kantin dan kafe tersebut ada juga yang memberi respon negatif. Namun Kummle menyebutkan bahwa sejauh ini sebagian besar mahasiswa menanggapinya dengan positif. 


Orang Jerman sendiri, dalam sebuah studi pada tahun 2020 menunjukkan, 2,6 juta penduduknya adalah vegan dan sekitar 3,6 juta adalah vegetarian.


Kebijakan ramah perubahan iklim tidak hanya di meja makan


Perubahan iklim telah menjadi topik yang serius dalam ruang lingkup universitas-universitas di Berlin dalam beberapa tahun terakhir.


Jika saat ini yang paling santer diberitakan tentang upaya membuat kebijakan netral karbon adalah lintas pemerintah negara di dunia, di Jerman, universitas-universitasnya telah berusaha untuk menuju netral karbon di beberapa tahun mendatang.


Jadi, kebijakan ramah iklim tidak hanya akan hadir di meja makan, tetapi juga di bangunan-bangunan universitas dan di kebiasaan civitas akademika.


Melansir Berlin, dua dari universitas tersebut adalah Technische Universitat Berlin (TUB) dan Humboldt-Universitat zu Berlin (HU). TUB ingin menjadi kampus netral karbon pada tahun 2045 dan HU pada tahun 2030.


Untuk menuju tujuan tersebut, gedung-gedung di TUB akan direnovasi demi efisiensi energi. Ratusan pegawai dan pengajar juga ingin menghindari penerbangan jarak pendek untuk perjalanan bisnis.


Hans-Ulrich Heiss, Wakil Presiden TUB mengatakan "selama empat tahun terakhir, kami jelas telah mendorong isu perlindungan iklim ke permukaan," ujarnya.


Sementara di HU, pembangkit listrik tenaga surya telah banyak di pasang di atap-atap bangunan kampus. Martin Herrmann, seorang manajer perubahan iklim dalam program pengajaran "Studium Oecologicum" mengatakan "HU juga mendapatkan lebih dari 90 persen listriknya dari tenaga hijau."

No comments:

Post a Comment