Wednesday, September 8, 2021

Satgas COVID-19 Nilai Tingkat Kepatuhan Masyarakat Terhadap Prokes Masih Belum Baik

 

Ilustrasi, sumber foto: ANTARA


Kaya Kiu - Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menilai tingkat kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan masih belum baik. Satgas mencatat, sekitar 20 persen masyarakat yang tidak patuh menggunakan masker.


“Berdasarkan hasil pemantauan diketahui masih ada 20,68 persen kabupaten/kota, dan 22,61 persen kecamatan, dan 23,63 persen desa atau kelurahan, yang lebih dari tiga atau empat penduduknya, belum mematuhi memakai masker," kata juru bicara Satgas Penanganan. COVID-19 Wiku Adisasmito, saat konferensi pers virtual, Kamis (2/9/2021).


Namun, Wiku tidak merinci daerah-daerah yang memiliki kepatuhan rendah tidak menggunakan masker.


Ada sekitar 20 persen masyarakat yang tidak menjaga jarak


Wiku menambahkan, masih ada sekitar 20 persen masyarakat yang tidak patuh untuk menjaga jarak.


“Sedangkan 21,99 persen kabupaten/kota 25,06 persen kecamatan, dan 23,98 persen desa atau kelurahan, yang lebih dari tiga atau empat penduduknya, belum patuh dalam menjaga jarak,” katanya.


Lebih lanjut Wiku menjelaskan titik kerumunan yang memiliki kepatuhan tinggi yaitu di restoran, kedai, bandara, jalan umum, dan rumah.


Wiku sentil 5 provinsi tertinggi yang memiliki kasus kematian COVID tertinggi


Wiku kemudian mengungkapkan 5 provinsi di Indonesia yang memiliki angka kematian kasus COVID-19 tertinggi selama Agustus 2021. Lima provinsi itu adalah Bali, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah.


“Artinya masih ada 16 provinsi yang mengalami kenaikan kematian, di mana 5 provinsi yang mengalami kenaikan tertinggi di duduki oleh Bali yaitu naik 752, Sumatera Utara naik 610, Lampung naik 585, Kalimantan Selatan naik 501, dan Sulawesi tengah naik 470," kata Wiku.


Ia menambahkan, total kematian akibat COVID-19 pada Juli sebanyak 34.394 kasus. Sedangkan pada Agustus meningkat menjadi 37.330 kasus.


Pemerintah memantau varian Mu


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diketahui sedang memantau varian baru virus corona bernama 'Mu'. Pemerintah Indonesia pun mengaku mewaspadai varian baru ini.


“Walaupun saat ini kondisi cenderung normal dan beberapa pembukaan sektor juga secara gradual dilakukan, pemerintah terus berusaha mengawasi mobilitas dalam dan luar negeri dengan penuh kehati-hatian,” kata Wiku.


Wiku menjelaskan bahwa varian Mu atau b.1.621 pertama kali muncul di Kolombia. Varian ini sudah menyebar ke beberapa negara seperti Amerika Selatan dan Eropa.


Ia juga mengatakan varian Mu masuk dalam kategori variant of interest (VoI).


“Sejak 31 Agustus lalu, varian b.1.6.2.1 yang pertama kali ditemukan di Kolombia ini, telah ditetapkan menjadi tambahan varian yang masuk dalam kategori variant of interest,” ujarnya.


“Saat ini persebarannya sudah ditemukan di beberapa negara lain di Amerika Selatan dan Eropa. Status VoI diberikan pada varian yang sedang diamati, untuk dapat memberikan kesimpulan bahwa varian ini bersifat lebih efektif infeksius daripada varian originalnya,” tambahnya.

No comments:

Post a Comment