Sunday, September 19, 2021

Tak Hanya Pandemi COVID-19, India Juga Hadapi Kasus Virus Nipah

 

Ilustrasi kelelawar. [Shutterstock]


Kaya Kiu - Dengan jumlah penduduk yang besar, India menjadi salah satu negara dengan total kasus infeksi COVID-19 tertinggi di dunia. Lebih dari 33 juta orang di negara itu telah terinfeksi dan sekitar 441.000 orang telah meninggal.


Kini, India juga menghadapi kasus virus yang disebut-sebut lebih mematikan dari virus Corona. Virus tersebut adalah virus Nipah. Seorang anak laki-laki di negara bagian Kerala, India selatan dilaporkan meninggal karena virus tersebut.


Menurut CBS News, pasien mengalami demam tinggi dan kondisinya memburuk sejak pekan lalu. Dokter mencurigai radang otak (ensefalitis) dan segera mengirimkan sampel darah ke National Institute of Virology. Hasil sampel mengkonfirmasi adanya infeksi Nipah.


Pelacakan kontak dilakukan, ratusan orang diisolasi

https://twitter.com/NPR/status/1435662488184500226?s=20


Pada Minggu (5/9), seorang bocah lelaki berusia 12 tahun di negara bagian Kerala, dikabarkan meninggal dunia akibat virus Nipah. Hal ini mendorong petugas kesehatan untuk segera melakukan contact tracing dan mengisolasi ratusan orang yang diduga pernah kontak dengan bocah tersebut.


Dilansir dari Al Jazeera, Selasa (7/9), delapan orang yang melakukan kontak telah dites dan hasilnya negatif, demikian menurut Menteri Kesehatan negara bagian bernama Veena George.


Menurut George, lebih banyak sampel akan diuji dan total 48 kontak direncanakan, termasuk delapan yang dinyatakan negatif. Mereka berada di bawah pengawasan intensif oleh rumah sakit.


Virus Nipah adalah salah satu virus langka paling mematikan di dunia. Virus ini pertama kali diidentifikasi di Malaysia pada akhir 1990-an. Penyebaran dapat terjadi karena dibawa oleh kelelawar buah, babi dan melalui kontak manusia dengan manusia lain.


Pemerintah negara bagian Karnataka memperketat perbatasan

https://twitter.com/htTweets/status/1434359652116926465?s=20


Menurut WHO, virus Nipah diperkirakan memiliki tingkat kematian 40 hingga 75 persen bagi mereka yang terinfeksi. Ini lebih ganas jika dibandingkan dengan virus Corona.


Selain itu, negara bagian Kerala saat ini merupakan wilayah yang menyumbang infeksi COVID-19 harian tertinggi di India. Dilansir dari Associated Press, hingga Senin (6/9), hampir 20.000 infeksi COVID-19 harian disumbangkan dari Kerala dengan total kasus di seluruh negeri mencapai 31.222 kasus.


Kabar munculnya infeksi virus Nipah yang menewaskan seorang anak membuat negara bagian Kerala semakin waspada. Pemerintah negara bagian Karnataka yang berbatasan dengan Kerala segera meningkatkan kewaspadaan perbatasan.


Dilansir Hindustan Times, daerah yang berbatasan dengan Kerala diharapkan ekstra waspada. Pihak berwenang diminta untuk terus memantau mereka yang datang dari Kerala dan menderita gejala demam, perubahan status mental, kelemahan parah, sakit kepala, gangguan pernapasan, batuk, muntah, nyeri otot, kejang, dan diare.


Surveilans yang sistematis juga disarankan untuk dikembangkan dalam rangka mengidentifikasi dan mendeteksi virus Nipah secara dini. Informasi tingkat bahaya harus disebarluaskan agar masyarakat juga mengetahuinya.


Tidak menyebar seperti COVID-19

https://twitter.com/IndiaToday/status/1434348894922547203?s=20


Saat ini tim ahli India telah didatangkan dari pusat, untuk membantu pemerintah negara bagian Kerala dalam melacak dan mengidentifikasi kemungkinan penyebaran virus. Menurut Times of India, tidak ada vaksin untuk virus Nipah.


Meski lebih mematikan daripada COVID-19, namun penyebarannya tidak seperti COVID-19 yang bisa lewat udara. Nipah menyebar melalui kontak manusia ke manusia.


Saran yang dianjurkan untuk menghindari tertular adalah, jangan makan buah yang sudah jatuh ke tanah dan jangan sampai bersentuhan dengan orang yang terinfeksi.


Kerala dilanda wabah Nipah pada 2018. Sedikitnya 17 orang meninggal saat itu karena terinfeksi virus tersebut. Pada tahun 2019, seorang siswa sekolah terinfeksi Nipah tetapi dapat dirawat dengan baik sehingga tidak meninggal.

No comments:

Post a Comment